Blog tentang keuangan, reksadana, bitcoin gratis dan yang berhubungan dengan investasi lainnya.

Mengenal Investasi Reksadana

No comments
Investasi Reksadana
Bagaimana cara investasi reksadana? Nah tuh, jadi gak sabar kan? Reksadana jelas merupakan pilihan baik untuk mulai berinvestasi di pasar modal dengan mudah tanpa harus mencari modal besar. Mulai dengan Rp100 ribu Agan sudah bisa bernivestasi.

Saking mudahnya Reksadana telah menjadi menjadi pilihan investasi populer berbagai kalangan mulai dari mahasiswa, petani, ibu rumah tangga, karyawan swasta, PNS, sampai pengusaha besar. Daya tarik utama Reksadana tentulah karena kemudahan bertransaksi dan tingkat keuntungan (return) yang jauh melebihi tabungan dan deposito.

Sebelumnya mari kita lihat video edukasi OJK tentang investasi di pasar modal di bawah ini:

Jadi Reksadana adalah…

Reksadana ada dasarnya merupakan media investasi kolektif. Dikatakan kolektif karena uang masyarakat dikumpulkan secara kolektif oleh perusahaan pengelola investasi (Manajer Investasi – MI). Uang Agan kemudian ditanamkan tidak ke dalam satu saham saja tetapi sejumlah instrument investasi (saham, deposito, obligasi dll) pada berbagai perusahaan dan bisnis yang berbeda pula.

Dengan demikian, masing-masing produk reksadana memiliki beberapa tempat berinvestasi yang berbeda, sesuai jenis produk tersebut. Dengan kata lain, reksadana dapat menjadi cara praktis berinvestasi saham di banyak perusahaan sekaligus, dengan modal minim.

Karena saham merupakan bentuk kepemilikan suatu bisnis, maka saat berinvestasi di reksadana saham, masyarakat juga sekaligus sudah memiliki bisnis, sesuai dengan penempatan investasasi reksadana yang dibelinya.

Misalnya saat Agan membeli reksadana yang menanamkan saham di PT Astra International, PT Indofood, PT Telkom, PT Bank Mandiri…dst, maka Agan sebagai investor sebetulnya sudah ikut memiliki dan menikmati potensi keuntungan dari perusahaan-perusahaan tersebut.

Menabung, Reksadana atau Beli Saham Sendiri?

Seperti dijelaskan di atas, menabung saat ini tidaklah menarik untuk tujuan investasi karena tingkat pengembalian (return) yang rendah, bahkan lebih rendah dari rata-rata inflasi tahunan. Tabungan semata bermanfaat untuk menyimpan uang, bukan untuk berinvestasi. Sementara untuk bertransaksi saham, tidak semua orang memahaminya atau memiliki waktu untuk melakukan analisa. Pada saat berinvestasi saham, nasib investasi Agan ditentukan oleh nasib perusahaan yang Agan beli sahamnya.

 Sementara dalam investasi reksadana, investor tidak perlu repot karena semua ditangani oleh perusahaan Manajer Investasi (MI). Nah, perusahaan Manajer Investasi (MI) sendiri merupakan perusahaan pengelola investasi yang mendapat izin resmi dari OJK (Otoritas Jasa Keuangan) untuk mengumpulkan dan menginvestasikan uang masyarakat.

Daftar Manajer Investasi resmi yang Disetujui Pemerintah.

Dana yang tertanam di reksadana tersebar di berbagai instrumen investasi, sehingga resiko dan keuntungannya ditentukan oleh banyak faktor. Misalkan produk reksadana yang Agan beli menanamkan dananya di 20 perusahaan yang berbeda, maka ketika nilai saham salah satu 2 atau 3 perusahaan diantaranya turun, Agan tidak perlu terlalu kuatir karena kemungkinan nilai ‘saham’ Agan di belasan perusahaan lainnya nilainya tetap atau malah naik.

Selain itu, reksadana memungkinkan Agan mulai berinvestasi saham dengan nilai nominal kecil. Dulu membuka investasi reksadana diperlukan dana ratusan juta rupiah. Akan tetapi saat ini, pemerintah mendorong masyarakat berinvestasi. Mulai dengan dengan Rp100ribu, Agan sudah bisa mulai berinvestasi reksadana, sekaligus berinvestasi di banyak perusahaan.

Lalu apa saja kelebihan investasi reksadana?

Ada beberapa alasan yang membuat reksadana cocok menjadi pilihan investasi semua orang:
  1. Modal kecil. Dengan Rp100 ribu saja Agan sudah bisa membuka investasi reksadana. Selanjutnya Agan bisa menambah dan memperbesar investasi sesuai dana yang ada ataupun diselaraskan dengan tujuan investasi yang ingin dicapai. Dengan modal sekecil ini, siapapun bisa memiliki investasi reksadana, termasuk ibu rumah tangga, mahasiswa, PNS, karyawan, artis, sampai kalangan profesional.
  2. Potensi hasil yang tinggi dalam jangka panjang sehingga sangat cocok untuk menjadi instrumen mempersiapkan masa pensiun, menyiapkan dana pendidikan anak, dan berbagai rencana sejahtera lainnya.
  3. Mudah dicairkan. Reksadana hampir mirip dengan tabungan sehingga mudah dicairkan setiap saat. Uang akan masuk ke rekening bank investator maksimum 7 hari kerja sejak penarikan.
  4. Mudah dipantau dari manapun. Agan dapat melihat naik turunnya nilai investasi reksadana Agan setiap saat di media massa atau lewat handphone dan komputer secara online. Hal ini tentu sangat baik bagi PNS atau karyawan yang sering berpindah tugas. Investasi dapat dilakukan dan dipantau dari segala pelosok.
  5. Lebih aman. Resiko lebih tersebar karena dana investasi tidak ditanamkan di satu perusahaan saja, melainkan di sejumlah perusahaan dan jenis investasi yang berbeda sesuai kebijakan investasi produk reksadana tersebut. Dengan demikian penurunan nilai saham suatu perusahaan misalnya, tidak akan terlalu mempengaruhi nilai investasi kita karena bisa saja perusahan lainnya justru mengalami kenaikan nilai saham. Selain itu, dana investasi yang disetor tidak dipegang langsung oleh perusahaan manajer investasi melainkan dititipkan di rekening bank khusus, yang disebut bank kustodian. Uang ini pun tidak dicatat sebagai asset perusahaan manajer investasi ataupun bank kustodian, sehingga jika perusahaan atau bank tersebut bangkrut, uang investor tetap aman.
  6. Dikelola oleh pihak profesional. Berinvestasi reksadana berarti menanamkan duit dalam usaha-usaha produktif, sebagiamana layaknya berinvestasi saham, obligasi dan sebagainya. Hanya saja, Agan tidak perlu repot menganalisa pasar, membaca potensi bisnis dan sebagainya. Semua itu dilakukan oleh manajer investasi yang legal dan berizin resmi selaku pengelola dana Agan.

Jenis-jenis Reksadana 

Selain pertimbangan potensi keuntungan, Agan juga sebaiknya mengenal potensi resiko berdasarkan kategori reksadana. Secara umum terdapat 4 jenis reksadana. Keempatnya dibedakan atas komposisi tempat menanamkan uang yang dikumpulkan dari masyarakat. Jenis reksadana juga sekaligus menggambarkan potensi keuntungan dan resikonya.
  1. Reksadana Pasar Uang (RDPU). Reksadana jenis ini merupakan reksadana dengan resiko terendah karena penempatan dana investasi juga memilih media pasar uang yang relative stabil seperti deposito dan surat utang dibawah 1 tahun. Tingkat pengembaliannya cukup kecil sekitar 7% setahun. Karenanya produk ini biasanya dilakukan oleh mereka yang ingin berinvestasi jangka pendek (kurang dari 3 tahun).
  2. Reksadana Pendapatan Tetap (RDPT). Potensi keuntungan reksadana ini sedikit lebih tinggi dibandingkan RDPU, yaitu sekitar 10% per tahun dengan asumsi investasi jangka menengah (sekitar 3 tahun). Demikian juga resikonya sedikit lebih tinggi karena investasi umumnya ditanamkan dalam Surat Utang Negara (SUN) obligasi (pemerintah maupun swasta).
  3. Reksadana Campuran (RDC). Reksadana ini disebut campuran karena dana masyarakat diinvestasikan dalam saham dan obligasi. Biasanya investasi ini cocok bagi mereka yang ingin berinvestasi saham tetapi masih belum berani melihat fluktuasi saham yang naik turun, kadang bikin jantungan. Karenanya banyak yang menyarankan bahwa reksadana campuran cocok untuk tujuan investasi jangka menengah (3 – 5 tahun). Meskipun demikian potensi pengembalian RDC bisa mencapai 20% pertahun dengan asumsi investasi jangka panjang (lebih 10 tahun).
  4. Reksadana Saham (RDS). Ini merupakan jenis produk reksadana dengan potensi keuntungan yang sangat tinggi, di atas 20% setahun (jangka waktu investasi >10 tahun). Akan tetapi resikonya juga cukup besar sesuai dengan fluktuasi saham. Bagi Agan yang berani mengambil resiko dan mengharapkan keuntungan besar, disinilah letak investasi Agan. Walaupun RDS diinvestasikan dalam saham, resikonya tetap lebih rendah dibandingkan jika membeli saham perusahaan langsung. Karena sekali lagi produk reksadana, dalam hal ini RDS, menginvestasikan uang nasabah dalam sejumlah saham perusahaan yang berbeda, bukan hanya 1 perusahaan.

    Dari berbagai produk tersebut, terdapat juga produk reksadana syariah yaitu produk-produk reksadana yang menanamkan investasi dalam saham atau instrumen investasi yang disesuaikan dengan syariah Islam.

    Nah, bagaimana memilih reksadana yang terbaik dan pas untuk Anda? Silahkan baca di artikel: Memilih Reksadana Terbaik.

    Bagaimana Memantau Perkembangan Investasi Saya?

    Nilai reksadana dinyatakan dalam poin dan NAV (net asset value) / NAB (nilai asset bersih). Sebuah produk reksadana yang baru diluncurkan umumnya memiliki harga Rp1.000/poin. Jika Agan punya Rp1 juta, berarti Agan bisa membeli 1000 poin. Tetapi bila harga produk tersebut sudah Rp1.500/poin, tentu Agan hanya bisa membeli 666,67 poin.

    Keuntungan Agan nantinya dihitung dari naik turunnya nilai poin ini. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa belilah Reksadana selagi murah (baru diluncurkan, atau karena harga saham lagi anjlok), dan jual pada saat NAV/NAB-nya sudah tinggi. Pergerakan NAV/NAB diawasi oleh berbagai pihak antara lain Bapepam LK dan Bank Indonesia, sehingga Agan tidak perlu kuatir keuntungan Agan dimanipulasi.

    Agan dapat melihat perkembangan NAB atau NAV, yaitu harga setiap poin reksadana Agan di media massa ekonomi seperti Bisnis Indonesia setiap hari, atau secara online di website masing-masing MI atau beberapa penyedia info reksadana seperti Infovesta.com.  Biasanya investor pun akan menerima laporan perkembangan investasi Agan setiap bulan melalui surat, disertai informasi dan analisis  perkembangan ekonomi dan bisnis.

    Info lebih lanjut bisa dibaca di: Cara Melakukan Pembelian Reksadana

    Beberapa hal yang perlu Agan ingat:
    1. Investasi reksadana disarankan untuk investasi minimal 3 tahun agar Agan bisa menikmati imbal hasil yang lebih baik. Jika Agan membutuhkan dana dalam jangka waktu setahun, sebaiknya pilih reksadana pendapatan tetap atau investasi deposito. Namun ingat bahwa deposito berbeda dengan tabungan.
    2. Tanyakan seluruh biaya-biaya yang timbul dari produk yang Agan minati. Misalnya biaya saat pembelian atau penjualan investasi Agan. Masing-masing produk memberikan tarif biaya yang berbeda, sekitar 0 – 2%.
    3. Kebanyakan bank merupakan agen reksadana. Namun ingat bahwa, tidak semua produk reksadana tersedia di bank. Bisa jadi produk terbaik yang sesuai dengan kebutuhan Agan, tidak dijual di bank yang Agan datangi. Karena itu, ketahui dahulu: Cara memilih reksadana terbaik.
    4. Sebagaimana semua jenis investasi lainnya, reksadana juga mengandung resiko dan potensi keuntungan.
    Setelah membaca artikel ini dan link-link terkait sebetulnya Agan sudah siap berinvestasi. Bila masih ada yang kurang jelas, silahkan sampaikan lewat kolom komentar di bawah ini atau juga Agan bisa menghadiri  pelatihan-pelatihan reksadana yang tak jarang diadakan atau pelajari resiko investasi reksadana lebih lanjut.

    Big Thanks: HMI

    No comments :

    Post a Comment